Dari 1.000 Kavling Bersejarah ke Meja UMKM: Kenapa Borneo Istimewa Diundang ?

  • Jul 07, 2026
  • Borneo Istimewa

Bayangkan sebuah kawasan yang dulu jadi jantung Kota Pontianak — tempat orang berdagang, belajar, dan hidup berdampingan sejak akhir abad ke-18 — kini mulai sepi, nyaris dilupakan zaman. Lalu, dari puluhan surat undangan resmi yang dikirim ke pejabat pemerintah, akademisi, hingga tokoh adat, satu nama pelaku usaha lokal justru ikut disebut sejajar: UMKM Borneo Istimewa.

Bukan kebetulan. Dan ini bukan sekadar surat basa-basi.

Undangan yang Bukan Undangan Biasa

Pada 24 Juni 2026, Panitia Festival Budaya Khatulistiwa resmi melayangkan surat kolaborasi kepada Bapak Edi Suprianto, Ketua UMKM Borneo Istimewa. Surat bernomor 01/FBK-TS/VI/2026 ini mengundang hadir dalam pertemuan strategis pada Sabtu, 4 Juli 2026, di Gedung Konferensi Universitas Tanjungpura — forum yang akan merumuskan arah kolaborasi menjelang festival besar berskala kota yang digelar 24–26 Juli 2026 di Kawasan Tanah Seribu.

Yang menarik: dari 42 pihak yang diundang — mulai dari Balai Pelestarian Kebudayaan, Bapperida Kota Pontianak, hingga Ikatan Arsitek Indonesia dan Majelis Adat Budaya Tionghoa serta Melayu — UMKM Borneo Istimewa berdiri di urutan ke-28, tepat berdampingan dengan komunitas-komunitas penggerak sejarah dan budaya lain seperti Kolektif Susur Galur, ImajiRupa, dan Komunitas Wisata Sejarah.

Ini menegaskan satu hal: pelaku usaha lokal kini punya kursi di meja perencanaan kota, bukan sekadar jadi penonton atau penjaga stan di akhir acara.

Kawasan yang Menanti Dibangunkan Kembali

Kawasan Tanah Seribu — dulu dikenal dengan nama Belanda Duizend Vierkanten Paal — menyimpan jejak sejarah yang jarang disadari banyak warga Pontianak sendiri. Di sanalah berdiri Kantor Pos Lama, gedung De Javasche Bank yang kini jadi Bank Indonesia, dan Holland Inlandsche School yang bertransformasi menjadi SDN 14 Pontianak.

Namun waktu tak berbaik hati pada kawasan bersejarah. Bangunan-bangunan ini perlahan kehilangan denyut aktivitasnya, semakin jauh dari kehidupan warga sehari-hari. Festival Budaya Khatulistiwa hadir sebagai tindak lanjut dari Sarasehan Revitalisasi Gedung Kantor Pos 2024 — sebuah upaya untuk menghidupkan kembali kawasan ini lewat tujuh rangkaian kegiatan: telusur sejarah, kuliner tradisional, apresiasi sastra, olahraga rakyat, kirab budaya, urban sketching, hingga pemutaran film dokumenter.

Mengapa Kehadiran UMKM Jadi Penentu

Festival budaya sebesar apa pun akan kehilangan nyawanya tanpa kuliner, tanpa produk lokal, tanpa cerita ekonomi masyarakat yang hidup di sekitarnya. Di sinilah posisi UMKM Borneo Istimewa menjadi strategis — bukan hanya sebagai peserta pameran kuliner "Gelar Kuliner Khatulistiwa," tapi berpotensi menjadi mitra yang ikut membentuk Forum Sadar Budaya Kawasan Tanah Seribu, sebuah wadah kolaborasi jangka panjang yang akan lahir dari pertemuan 4 Juli mendatang.

Bentuk partisipasi yang ditawarkan panitia terbuka lebar bagi UMKM: dari menjadi mitra penyelenggara, mengisi salah satu rangkaian acara, mengirim peserta, mendukung publikasi, hingga memberi dukungan logistik dan jejaring kemitraan.

Lebih dari Tiga Hari Festival

Seperti ditegaskan panitia dalam suratnya, festival ini bukan sekadar kegiatan tiga hari yang selesai lalu dilupakan. Ia adalah langkah awal gerakan kolaboratif yang melibatkan komunitas, akademisi, pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat untuk menjadikan Kawasan Tanah Seribu kembali sebagai pusat sejarah, budaya, pendidikan, dan ekonomi kreatif kota.

Bagi UMKM Borneo Istimewa, undangan ini bukan sekadar selembar kertas resmi. Ia adalah pengakuan bahwa suara pelaku usaha lokal kini dianggap setara dengan suara akademisi dan pemerintah dalam menentukan wajah masa depan sebuah kawasan bersejarah dan mungkin, awal dari babak baru bagi UMKM lokal untuk naik kelas menjadi bagian dari identitas budaya kota.(.ed)