Mendorong Kesadaran Masyarakat: Pentingnya Pencegahan Stunting untuk Masa Depan yang Lebih Sehat

  • Dec 19, 2023
  • Edi Suprianto

Definisi Stunting

Stunting didefinisikan sebagai ukuran Panjang atau tinggi badan menurut umur (PB/U atau TB/U) dibawah -2 Standar Deviasi dari standar pertumbuhan anak pendek berdasarkan umurnya. Apabila tinggi badan menurut umur di bawah -2 SD sampai -3 SD, anak dinyatakan pendek (stunted). Sementara itu anak yang tinggi badan menurut umurnya di bawah -3 SD dinyatakan sangat pendek (severely stunted). Stunting menggambarkan keadaan “gagal tumbuh kembang” anak yang sebagian besar terjadi sejak 1000 Hari Pertama Kehidupan (1000 HPK). Stunting adalah akibat dari kekurangan gizi kronis, infeksi berulang dalam jangka waktu lama, dan stimulasi psikososial yang tidak cukup.

Dampak Stunting

Dampak jangka pendek kekurangan gizi antara lain terganggunya perkembangan otak, termasuk gangguan kemampuan fungsi kecerdasan anak (kemampuan belajar, berpikir, membaca dan berhitung, serta prestasi sekolah lebih rendah) yang sifatnya menetap, gangguan pertumbuhan fisik atau gangguan pertumbuhan tinggi badan, serta gangguan perkembangan organ metabolik yang menyebabkan terjadinya gangguan metabolisme glukosa, lemak, protein, hormon, reseptor, dan gen.

dampak jangka panjang akibat kekurangan gizi, antara lain menurunnya kemampuan berpikir (kognitif) dan menurunnya kemampuan dalam menyerap pelajaran di usia sekolah (menurunnya prestasi belajar), mengalami hambatan pertumbuhan sehingga terjadi stunting, menurunnya kekebalan tubuh sehingga anak mudah sakit dan berisiko tinggi untuk terkena penyakit tidak menular.

Penyebab Stunting

Stunting dapat disebabkan oleh berbagai faktor yang terjadi sejak dalam kandungan dan setelah bayi dilahirkan. Merujuk pada kerangka pikir UNICEF, penyebab stunting dibagi menjadi penyebab langsung, penyebab tidak langsung, serta penyebab yang mendasarinya.

  • Penyebab Langsung
  • Asupan gizi kurang

Penyebab langsung terjadinya stunting adalah asupan zat gizi yang tidak mencukupi dan status kesehatan yang tidak memadai. Pencegahan stunting harus dilakukan sejak 1000 hari pertama kehidupan anak, yaitu dengan memperhatikan kecukupan asupan gizi sejak awal kehamilan. Apabila asupan makanan ibu mencukupi dan tidak ada masalah kesehatan lain, janin pada umumnya akan tumbuh dan berkembang dengan baik. Stunting adalah peristiwa yang terjadi dalam periode waktu yang lama atau kronis, sebagai akumulasi dari kebiasaan makan terdahulu. Asupan hanya pada hari tertentu tidak dapat langsung memengaruhi status gizi. Tubuh membutuhkan zat gizi dalam jumlah yang seimbang dan beragam.

  • Penyakit infeksi

Kejadian infeksi seperti diare, kecacingan, infeksi saluran pernapasan (ISPA), malaria, dan demam dapat menjadi penyebab stunting. Hal ini disebabkan anak yang sedang sakit atau mengalami infeksi memerlukan asupan energi yang lebih banyak untuk melawan bakteri ataupun virus penyebab penyakit. Sebagai contoh, ketika anak demam, maka setiap 1 derajat kenaikan suhu, tubuh memerlukan tambahan energi sebanyak 10%. Di sisi lain, anak yang sedang sakit mengalami nafsu makan yang rendah, sehingga asupan gizi cenderung berkurang. Pada kondisi tersebut, energi akan lebih difokuskan untuk melawan penyakit, sehingga energi untuk mendukung pertumbuhan menjadi tidak memadai. Apabila kondisi ini terjadi secara terus-menerus atau berulang dalam waktu yang lama, penyerapan zat gizi dapat terganggu dan meningkatkan risiko stunting pada balita.

  • Penyebab Tidak Langsung
  • Lingkungan sosial (pola pengasuhan)

Lingkungan sosial sebagai penyebab tidak langsung terjadinya stunting memengaruhi pola pemberian makanan bayi dan anak dan perilaku kebersihan. Pada dasarnya pola makan dan kebersihan dipengaruhi oleh nilai, norma dan kebudayaan yang berlaku di masyarakat, seperti makanan apa yang dianggap baik dan tidak baik, yang akan berdampak pada kesehatan seseorang.

  • Ekonomi

Di kalangan ahli ekonomi, ada anggapan bahwa masalah kemiskinan adalah akar dari masalah kekurangan gizi. Stunting dan masalah kekurangan gizi lainnya pada balita erat kaitannya dengan kemiskinan. Kemiskinan menyebabkan akses terhadap pangan di tingkat rumah tangga sulit dicapai, sehingga orang akan kekurangan berbagai zat gizi yang dibutuhkan. Di sisi lain, kekurangan gizi dapat menyebabkan orang menjadi miskin karena berkaitan dengan menurunnya produktivitas dan rendahnya pendapatan.

  • Lingkungan Kesehatan

Lingkungan kesehatan sebagai penyebab tidak langsung terjadinya stunting dipengaruhi oleh akses dan pelayanan kesehatan, baik preventif maupun kuratif. Pemerintah Indonesia terus mengupayakan tercapainya cakupan kesehatan universal atau Universal Health Coverage (UHC) yang menjamin akses kepada seluruh masyarakat untuk kebutuhan pelayanan kesehatan promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif yang berkualitas dan efektif.

 

Pencegahan stunting

Usia yang sangat harus diperhatikan pada saat perumbuhan anak adalah pada masa golden age yaitu pada usai 0 – 2, periode 1000 hari pertama kehidupan atau periode emas ini didasarkan pada kenyataan bahwa pada masa janin sampai dengan anak berusia dua tahun terjadi proses tumbuh kembang yang sangat cepat dan tidak terjadi pada kelompok usia lain. Pencegahan yang dapat di lakukan menurut kementerian kesehtan antara lain :

  1. Ibu hamil mendapatkan TTD minimal 90 tablet
  2. Pemberian makanan tambahan untuk ibu hamil
  3. Pemenuhan gizi
  4. Persalinan dengan dokter atau bidan yang ahli
  5. Melakukan IMD
  6. Pemberian ASI Eksklusif
  7. Memberikan makanan tambahan pendamping ASI untuk bayi diatas 6 bulan hingga 2 tahun
  8. Pemberian imunisasi lengkap dan vitamin A
  9. Pemantauan pertumbuhan balita di posyandu terdekat
  10. Penerapan PHBS