Dari Dapur Rumah ke Podium Juara: Kisah Ibu Tini Wujudkan Mimpi Lewat Madu Lokal Sintang

  • Jul 13, 2026
  • Borneo Istimewa

Rp 10.000.000 di tangan, papan bertuliskan "JUARA 1" dipeluk erat, dan senyum yang tak bisa disembunyikan  begitulah momen yang dirasakan Ibu Tini, siang itu, di panggung Seremoni Lomba Produk Unggulan Daerah (PUD) Kabupaten Sintang Tahun 2026. Tapi di balik senyum itu, ada perjalanan panjang seorang anggota Komunitas Borneo Istimewa yang tak pernah menyangka produk rumahan miliknya bisa membawa pulang gelar juara tingkat kabupaten.

Ini bukan sekadar cerita tentang menang lomba. Ini cerita tentang bagaimana produk lokal, buatan tangan sendiri, bisa naik kelas asal ada yang berani mendaftar dan mempercayai kualitas produknya sendiri.

Berawal dari Pendaftaran yang Dibuka April Lalu
Semua ini bermula ketika Pemerintah Kabupaten Sintang membuka pendaftaran Lomba Produk Unggulan Daerah pada 9 hingga 20 April 2026 sebuah ajang yang dirancang untuk menjaring produk-produk lokal unggulan dari pelaku UMKM, koperasi, komunitas usaha, hingga masyarakat umum di Kabupaten Sintang. Lomba ini menyasar berbagai kategori, mulai dari makanan olahan, kerajinan, hasil pertanian dan perkebunan, hingga produk hasil hutan bukan kayu.

Ibu Tini, sebagai anggota Komunitas Borneo Istimewa, memutuskan untuk ambil bagian. Ia mendaftarkan produknya di kategori makanan olahan bersaing dengan sub kategori "Manis 3 & 4" yang menuntut kualitas rasa, kemasan, hingga daya jual yang matang.

Perjuangan yang Berbuah Juara 1
Setelah melalui tahapan seleksi administrasi, penilaian produk oleh tim juri, hingga proses verifikasi dan validasi usaha, nama Ibu Tini akhirnya diumumkan sebagai peraih Juara 1 Lomba PUD Sub Kategori Manis 3 dan 4, dengan hadiah senilai Rp 10.000.000.

Momen itu didokumentasikan dalam balutan busana batik biru-putih dan hijab abu-abu, berdiri di depan papan pengumuman resmi bertuliskan "JUARA 1 - Lomba PUD - Sub Kategori Manis 3 & 4 masing-masing Rp. 5.000.000,-", dengan produk kemenangannya  madu kemasan produksi lokal digenggam erat di tangan.

Seremoni ini digelar langsung di hadapan jajaran pejabat Kabupaten Sintang, lengkap dengan spanduk besar bertuliskan "Seremoni Lomba Produk Unggulan Daerah (PUD): Pengumuman dan Penyerahan Hadiah Pemenang Lomba Inovasi Produk  Sintang Asin, Manis, Pedas..." yang menjadi latar belakang panggung penghargaan.

Lebih dari Sekadar Hadiah
Kemenangan Ibu Tini bukan cuma soal uang tunai Rp 10000.000 yang diterima. Sesuai skema yang disiapkan Pemerintah Kabupaten Sintang, para pemenang Lomba PUD juga akan mendapatkan pendampingan pengembangan usaha, dukungan pendanaan untuk penyusunan portofolio, serta fasilitasi promosi produk lewat berbagai kegiatan daerah  termasuk Festival Lestari 2026 yang akan datang.

Artinya, gelar Juara 1 ini bukan garis akhir, melainkan pintu masuk. Produk madu Ibu Tini kini punya kesempatan lebih besar untuk dikenal lebih luas, didampingi secara profesional, dan naik kelas dari sekadar produk rumahan menjadi produk unggulan daerah yang diperhitungkan.

Inspirasi bagi Pelaku Usaha Lokal Lainnya
Kisah Ibu Tini dan Komunitas Borneo Istimewa menjadi bukti nyata bahwa produk lokal Kalimantan Barat, sekecil apa pun skalanya saat ini, punya potensi besar untuk bersaing dan menang — asal pelakunya berani melangkah, mendaftar, dan mempercayai apa yang mereka buat dengan tangan sendiri.

Bagi pelaku usaha lain di Kabupaten Sintang yang masih ragu untuk unjuk produk, kisah ini barangkali menjadi pengingat sederhana: kadang, yang membedakan produk rumahan dengan produk unggulan daerah hanyalah keberanian untuk mencoba.(.ed)